Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencari Perias Pengantin Bali di Jakarta

Mencari Perias Pengantin Bali di Jakarta
Payas Agung Bali, img/weddingmarket.com

Mencari Perias Pengantin Bali di Jakarta

Mencari Perias Pengantin Bali di Jakarta - Jumlah perias pengantin Bali di Jakarta sangat sedikit dan tidak semua membuka sanggar pengantin. Mari kita telusuri keberadaan mereka.

Tampil cantik, memesona, istimewa dan beraura merupakan idaman semua calon pengantin. Tentu saja yang bisa mewujudkan keinginan tersebut adalah seorang perias pengantin. Namun kadang mencari perias dengan spesifikasi adat tertentu, seperti perias pengantin Bali, tergolong susah ditemukan. 

Berburu perias pengantin Bali tidak semudah mencari perias pengantin Jawa, Sunda atau Sumatera. Namun bagi orang Bali, pura bisa menjadi tempat untuk menemukan perias yang diinginkan. Banyaknya ritual adat yang harus dijalani oleh kedua calon pengantin membuat seorang perias harus memahami dengan baik detail riasan dan aksesori yang akan digunakan termasuk juga busananya.

Perias Pengantin Bali di Jakarta

Nah, bagi pembaca sekalian yang ingin menikah dengan adat Bali di Jakarta dan sekitarnya, beberapa profil perias pengantin Bali berikut mungkin bisa menjadi pilihan. Simak profil dan layanan khas mereka.

Salon Mapayas

Salah satu perias pengantin Bali yang boleh dibilang sukses adalah Dewi Sudarma. Sekitar delapan tahun lalu Dewi mulai merintis salon yang berlokasi di Kemang Pratama, Bekasi. Dari mulai merias untuk acara-acara resmi, ibu dua remaja laki-laki ini pun merambah ke dunia rias pengantin tradisional. 

Merias pengantin Bali ditekuninya sejak Dewi belajar pada Anak Agung Ngurah Mayun Tanaya di Bali, lima tahun silam. Sejak itulah Dewi yang berasal dari Singaraja, Bali ini mulai berani menerima calon pengantin yang berasal dari Bali, baik yang akan menikah di pura maupun di gedung pertemuan. 

“Merias pengantin Bali tidak mudah, karena setiap wilayah memiliki pakem atau tata cara tersendiri. Riasan pengantin Singaraja berbeda dengan riasan Tabanan. Riasan Gianyar berbeda dengan riasan Karangasem. Perbedaan itu terlihat dari busana dan aksesori yang digunakan. Kalau riasannya hampir sama semua,” katanya.

Menurut pemilik nama gadis Luh Putu Sriani Dewi ini, biaya yang dibutuhkan oleh calon pengantin Bali sangat tergantung pada situasi yang menyertainya. Ada dua tipe riasan pengantin yang umum yaitu paes agung dan madya. 

Paes agung dikenai biaya Rp 3-5 juta dengan pilihan busana prada atau songket. Busana prada lebih mahal karena ada lapisan emasnya. Biaya ini hanya untuk riasan dan busana kedua calon pengantin. Jika ditambah dengan kedua orangtua dari kedua belah pihak dan enam pasang keluarga, biayanya menjadi Rp 10 juta. 

Sedangkan untuk riasan madya, biayanya jauh lebih murah karena busananya lebih sederhana, tidak mengenakan kain yang berlapis-lapis dan hanya menggunakan sedikit prada. Biaya untuk rias dan busana pengantin Bali tradisional dan modifikasi sama saja.

Tidak hanya merias dan menyediakan busana pengantin, Dewi juga menyediakan pelaminan, dekorasi dan gong (gamelan). Jika ditotal butuh dana sekitar Rp 50 juta yang harus disediakan calon pengantin. Biaya sebesar ini tidak berlaku jika acara dilakukan di pura dan calon pengantin aktif di pura tersebut. 

“Ikatan gotong royong masyarakat Bali sangat kuat, terutama yang berada di perantauan. Jika ada yang mau nikah di pura, para umat di banjar tersebut akan gotong-royong menyumbang sesajen, tenda, kursi, penjor (janur) dan sebagainya. Biaya yang dibutuhkan tidak lebih dari Rp 5 juta. Bahkan saya tidak pasang harga khusus, tergantung dari kemampuan calon pengantinnya,” kata ibu muda yang aktif di Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi ini.

Meski sudah terampil merias pengantin Bali, Dewi tetap rutin berkomunikasi dengan gurunya di Bali untuk memperdalam keahlian merias dan lebih memahami pakem-pakem di setiap wilayah di Bali.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai mapayas kamu bisa langsung mengunjungi situsnya di sini: Mapayas 

Sanggar Rias Darmita

Sanggar Rias Darmita tidak memiliki salon untuk merias atau mendandani calon pengantin. Kegiatan rias-merias dan mengenakan busana pengantin dilakukan di gedung, rumah calon pengantin, atau pura. Namun jika Anda berkunjung ke Pura Amartha Jati di Cinere dan mencari Made Darmi, maka Anda akan dibawa ke sebuah warung yang berada di sudut halaman pura.

Ibu Made, begitu panggilannya, 30 tahun lalu mengawali hobinya merias para penari yang akan tampil di pura, baik itu untuk acara nikahan, hari raya maupun upacara adat. Nah ketika dua tahun lalu iparnya di Bali meninggal dan seluruh perlengkapan pengantin dihibahkan kepadanya, ibu dua anak ini pun menggunakannya untuk beraktivitas. Tidak ada kesulitan baginya untuk merias para calon pengantin Bali.

Perlengkapan pengantin itu disimpan di rumahnya yang berada di belakang sekolah Al Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Calon pengantin yang ingin mengenakan busana pengantin dari Made bisa datang ke rumahnya dan memilih sendiri busana yang diinginkan: paes agung atau madya, prada, songket atau endeg (tenun khas Bali). Semua perlengkapan ini dibersihkan dan dirawat sendiri setelah digunakan klien.

Biaya yang dikeluarkan calon pengantin untuk jasa rias dan busana di sini jika memilih paes agung adalah Rp 5 juta, sementara bila rias saja biayanya Rp 3 juta. “Kadang ada yang ingin membeli busana. Saya juga menyediakannya, harganya Rp 10 juta untuk sepasang paes agung. Agak mahal karena busana ini berlapis-lapis dan berwarna-warni serta disepuh emas (prada), “ kata ibu yang masih terlihat awet muda ini.

Selain rias dan busana, Made juga menyediakan berbagai jenis pejati (sesajen) untuk berbagai upacara yang dibuatnya sendiri. Harganya relatif, tergantung jenis buah dan besar kecilnya pejati. Minimal Rp 100 ribu per tampah yang berisi aneka buah, kembang, nasi, ketupat dan lauk pauknya. 

Selain pejati ada juga pajegan yaitu sesajen dibentuk tinggi dan dibawa dengan cara diusung di atas kepala. Pajegan ini harganya mulai dari Rp 500 ribu untuk yang tingginya 500 cm, atau sekitar Rp 1 juta untuk ukuran yang lebih dari satu meter. Pajegan ini terdiri dari aneka buah yang diberi hiasan dari daun kelapa muda. Dalam suatu upacara pernikahan diperlukan lebih dari 50 tampah pajeti dan pajegan.

Sehari-hari Made menyediakan makanan khas Bali di warungnya bersama anak dan cucunya. Namun jika ada panggilan untuk merias, ia akan membantu calon pengantin yang memerlukan jasanya. Ia selalu siap mendiskusikan riasan dan busana yang hendak digunakan sang mempelai.

Untuk keperluan rias pengantin kamu bisa menemui beliau di Pura Amartha Jati di Cinere.

Salon Dewi Rawamangun

Salon yang dikelola oleh pasangan suami-istri Nyoman Sudiarsa dan Made Sri Futari ini tidak hanya melayani rias pengantin Bali tapi juga menyediakan dekorasi dan pelaminan, juga fotografernya. Selama 30 tahun lebih Ibu Made—yang lebih sering dipanggil Ibu Nyoman—terkenal dengan ciri khas riasannya yang apik. Sebagai suami, Pak Nyoman pun ikut mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan dekorasi dan pelaminan.

Namun usia memang tidak bisa dilawan. Di usia tuanya, Ibu Made terserang stroke yang menyebabkan tangannya tidak bisa lagi merias dengan ajeg. Untungnya tiga dari empat anak perempuannya telah “dikader” untuk mengganti dan meneruskan usaha ini.

Menurut Ibu Made, aksesori pengantin yang dimilikinya semuanya disepuh dengan emas agar terlihat menarik dan mengilat. Penyepuhan ini dilakukan rutin setelah digunakan. Sebelum digunakan, perlengkapan busana, aksesori dan dekorasi dibersihkan dan diperbaiki. 

Mencari Perias Pengantin Bali Ibu Kota
Contoh rias pengantin Bali di salon Dewi

Seperti juga Mapayas, Ibu Made tidak menyediakan sesajen. Alasannya sesajen sudah disediakan oleh pemangku pura dan sudah menjadi satu paket dengan pandita dan pemangku. Harga yang diberikan pasangan suami-istri ini tidak jauh berbeda dengan dua perias sebelumnya: antara Rp 3-5 juta untuk rias dan busana pengantin serta Rp 5 juta untuk dekorasi dan pelaminan.

Dari luar, salon yang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur ini memang terlihat sepi. Namun untuk merias pengantin, salon tetap terbuka karena ditangani oleh anak-anak Ibu Made. Calon pengantin bisa langsung datang ke sini untuk mendiskusikan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan adat Bali

Informasi lebih lanjut mengenai rias pengantin Bali di salon Dewi silakan kunjungi situs berikut:

http://salondewi64.blogspot.com/
http://simplysunantari.blogspot.com/

Mendapatkan perias pengantin adat Bali di Jakarta memang tidak mudah. Beberapa profil perias pengantin Bali di atas semoga dapat menambah informasi bagi pembaca sekalian, khususnya yang sedang mencari perias pengantin yang khas adat Bali.

Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Mencari Perias Pengantin Bali di Jakarta"