Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kucumbu Tubuh Indahku; Memories of My Body (2018)

Kucumbu Tubuh Indahku - Memories of My Body [Bukan Review]

Akhir minggu seperti biasa, kita nonton film. 🤓

Tulisan ini bukan review, hanya bercerita sedikit mengenai film yang cukup banyak menuai protes dari beberapa kelompok masyarakat beberapa waktu lalu. Bahkan diboikot dan dilarang tayang di beberapa kota. Pasalnya, film ini dianggap mempromosikan LGBT. Saran saya, bagi Anda yang tidak setuju dengan isu ini sebaiknya tidak usah menonton filmnya.

Yup, film itu berjudul "Kucumbu Tubuh Indahku"; versi judul bahasa Inggrisnya Memories of My Body. Menggambarkan tentang kisah seorang penari lengger lanang di Banyumas, Jawa Tengah.

Kucumbu Tubuh Indahku; Memories of My Body (2018)
Kucumbu Tubuh Indahku; Memories of My Body (2018)

Film besutan sineas kawakan Garin Nugroho ini memenangkan Piala Citra FFI 2019 terbanyak pada 8 kategori termasuk di dalamnya kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. 

Garin terinspirasi oleh kisah seorang penari lengger lanang, Rianto Manali, yang hingga sekarang sudah berkeliling ke puluhan negara untuk memperkenalkan kesenian tari lengger. Rianto Manali diadaptasikan ke dalam film sebagai tokoh bernama Juno yang dalam hidupnya mengalami banyak pengalaman konflik, kekerasan, hingga gejolak batin dan kegamangannya akan sisi maskulin dan feminin dalam dirinya. 

Berbagai macam konflik dan kekerasan sudah Juno saksikan dan alami dari semasa kecil. Kepergian sang ayah dan tidak hadirnya sosok ibu membuat hidup Juno berat dilalui, dan memaksanya harus hidup dengan berpindah-pindah tempat. Hingga cerita akhirnya membawanya berlindung kepada seorang warok yang kemudian menjadikan Juno sebagai gemblaknya. 

Kalau dilihat dari awal sampai akhir, menurut saya film ini sama sekali tidak bertujuan mempromosikan isu transgender (LGBT). Film ini hanyalah potret mengenai jalan hidup seorang penari lengger lanang. Dan hal tersebut memang ada dan merupakan bagian dari budaya masyarakat Banyumas. Memang sensitif bagi beberapa kelompok masyarakat, namun saya sebagai penikmat film mencoba mengambil sisi positif dari apa yang disampaikan melalui film ini.

Dengan film Kucumbu Tubuh Indahku, Garin ingin menyampaikan pesan perihal trauma yang dialami oleh manusia. Trauma tidak hanya soal psikis, namun juga trauma sosial, kultural, sejarah, politik, hingga trauma mengenai kefemininan dan kemaskulinan. Kemudian apabila trauma tersebut bisa dikelola dengan baik, tentu akan membuahkan hal yang positif.

Kehidupan manusia itu kompleks. Banyak hal yang sebenarnya terjadi tapi tidak kita ketahui. Harapannya kita selalu bisa mawas diri dan mengambil hal positif dari setiap peristiwa dan menyuguhkannya kembali dalam bentuk kemanfaatan bagi sesama.

— Sandy

Posting Komentar untuk "Kucumbu Tubuh Indahku; Memories of My Body (2018)"